Blog

Salam

Kamis, 21 Juni 2012

Belajar dari India

Menjelang akhir tahun 2005 lalu, para petinggi negeri ini berkunjung ke Bangalore untuk bertemu para eksekutif dari software house di sana. Dalam pertemuan tersebut, chairman Infosys menyatakan bahwa kesuksesan mereka diraih berkat penguasaan bahasa inggris yang mumpuni. Penguasaan bahasa inggris tersebut memungkinkan mereka berkomunikasi dengan baik terhadap pasar dan komunitas internasional.

India memang merupakan negara besar dengan jumlah english speaker terbesar kedua di dunia. India juga merupakan negara penghasil software terbesar kedua setelah Amerika dengan nilai ekspor $17 milyar. Diperkirakan, pada tahun 2008 nanti penjualan mereka akan menembus angka $50 milyar. Dari data dan fakta tersebut, ada baiknya kita untuk sedikit mencoba belajar dari India.

Menilik sejarahnya, selepas merdeka dari Inggris, Parlemen India sempat berusaha memilih salah satu indigenous language untuk dikukuhkan sebagai bahasa nasional. Usaha ini sayangnya tidak pernah berhasil mencapai kesepakatan karena tiap-tiap ethnic group berusaha mempromosikan bahasanya masing-masing. Di kemudian hari, ternyata hal ini justru menjadi blessing in disguise.

Sampai saat ini, bahasa inggris memang mendominasi sebagai bahasa percakapan dan komunikasi di seantero dunia. Lebih dari 80% situs web di internet disajikan dalam bahasa inggris. Bahasa terbesar kedua, Jerman, hanya menguasai 1,5% sementara bahasa Jepang hanya menguasai 3,1%. Tercatat pula 60% hingga 85% email yang terkirim dikemas dalam bahasa inggris. Dan satu dari lima orang di muka bumi ini dapat berbahasa inggris, meskipun hanya pada level kompetensi tertentu saja.

Bicara tentang penggunaan bahasa inggris, menguasai bahasa asing bisa sejatinya bersifat “depends on” atau “a must.” Penguasaan bahasa asing bisa bersifat “depends on” ketika pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan domestik yang mencukupi. Sebaliknya, ketika peningkatan tenaga kerja melampaui lapangan pekerjaan domestik yang tersedia, maka selayaknya sistem pendidikan kita harus menyiapkan anak didiknya untuk memasuki pasar kerja global. Dalam hal ini, kemampuan berbahasa asing tidak lagi “depends on” melainkan sudah merupakan suatu keharusan (baca: “a must”).

Dari sudut pandang yang berbeda, penguasaan bahasa asing juga dapat dipetakan berdasar derajat kesarjanaan yang berbeda. Misalnya, untuk tingkat pasca-sarjana (S2 dan S3), penguasaan bahasa inggris pada level interaksi yang mumpuni merupakan suatu keharusan. Sementara untuk level S1 ke bawah, penguasaan bahasa inggris secara pasif saja boleh dikatakan cukup. Berbeda dengan lulusan S1, para mahasiswa pasca-sarjana memang dididik untuk menjadi scientist. Sebagai seorang scientist, kemungkinan untuk bergaul dengan peer mereka di luar negeri jauh lebih besar daripada lulusan S1. Mereka mungkin menghabiskan lebih dari separuh working hoursnya dengan komunitas yang memerlukan bahasa inggris sebagai alat komunikasi utama.

Di sisi lain, penguasaan bahasa asing juga terkait dengan strategi pemberdayaan resources yang ada di negeri ini. Kita akan dihadapkan pada pilihan untuk memperkuat hard knowledge atau memperkuat soft skill berupa penguasaan bahasa asing. Sebagai contoh, kita dihadapkan pada pilihan apakah dana yang ada lebih baik digunakan untuk menambah lab fisika/matematika atau meningkatkan jumlah guru bahasa inggris. Tentu saja hal ini bergantung pada pilihan arah pembangunan ekonomi kita. Jika kita lebih mengandalkan pekerjaan yang dioutsource oleh negara-negara maju, tentu penguasaan bahasa inggris adalah mutlak. Sebaliknya, jika kita memprioritaskan kemampuan lokal untuk mengeksploitasi sumberdaya alam di negeri ini, maka hard knowledge menjadi jauh lebih penting. Integrated strategy semacam inilah yang harus dipikirkan ulang oleh para policy maker kita.

Dan terakhir, bagi para public figure yang kolam airnya berada di level internasional, semestinya juga ditunjang oleh penguasaan bahasa asing yang baik dan benar. Harapannya, selain menjalin komunikasi dengan komunitas asing, juga diharapkan dapat ikut memarketingkan Indonesia kendati tidak secara langsung. Sebutlah Anwar Ibrahim atau Dorodjatun Kuntjorojakti yang mampu berbicara inggris dengan baik dan tetap mudah dimengerti.

Ada beberapa solusi untuk merealisasikan wacana tersebut. Langkah pertama adalah melakukan transfer ilmu pengetahuan secara terarah dan berlanjut –dari bahasa asing menjadi bahasa Indonesia- agar iptek terkini dunia lebih mudah diserap oleh orang-orang kita. Diharapkan, orang-orang Indonesia kelak dapat mempunyai akses informasi menuju iptek dunia dan memberikan manfaat terapan pada orang banyak meski belum menguasai bahasa inggris secara baik. Di Amerika misalnya, pekerja iptek yang aktif menambah khazanah iptek manusia hanya 1-2 persen saja dari penduduknya, tetapi hasilnya dinikmati oleh hampir seluruh penduduk Amerika.

Solusi kedua adalah menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa primer yang resmi dan mendegradasi bahasa indonesia. Berbeda dengan Malaysia yang menggunakan bahasa inggris sebagai penghubung antara etnik Melayu, Cina, dan India; Indonesia telanjur memilih bahasa melayu (bahasa indonesia) sebagai bahasa penghubung. Dengan demikian, (hampir) mustahil memunculkan bahasa penghubung kedua karena pada prakteknya kita hanya akan memakai satu bahasa. Jika langkah ini diambil, konsekuensinya bahasa indonesia hanya sekadar menjadi bahasa lokal, bahasa gaul anak muda, atau bahasa dalam lirik lagu dan karya sastra lainnya.

Akan tetapi, langkah praktis yang ideal dan lebih masuk akal justru dapat dimulai dari diri kita sendiri. Kita bisa mencoba untuk tidak melewatkan satu hari pun tanpa kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan bahasa inggris kita. By any means. Sebut saja seperti membaca koran/majalah asing, menulis paper, membaca textbook dan jurnal asing, mendengarkan BBC atau VOA, menonton film, mengunjungi English speaking zone, membaca komik Asterix, dan seterusnya. Harapannya, ketika salah satu dari kita kelak tiba-tiba “terpeleset” menjadi public figure (dekan, rektor, duta besar, menteri, gubernur, bupati/walikota, pengusaha, artis, dan sebagainya) kita bisa membawa diri dengan baik dan memukau dalam forum internasional.

Terakhir, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kita seharusnya tetap bisa memaklumi dan menghargai orang lain yang belum mampu berbicara bahasa inggris dengan baik, mengingat bahasa tersebut bukan native language kita. Kualitas dan kapabilitas seseorang toh tidak melulu hanya diukur berdasar kemampuan bahasa asingnya. Dan yang lebih penting adalah kesadaran dan kepercayaan diri kita dalam menyampaikan suara atau melakukan suatu komunikasi. Ketika situasi dan kondisi menuntut penguasaan bahasa indonesia yang baik, pergunakanlah bahasa ibu kita dengan sebagaimana mestinya. Begitu pula ketika forum menuntut penguasaan bahasa inggris yang baik, maka berbahasalah dengan tidak memalukan diri sendiri. Jangan sampai gara-gara nasionalisme yang membabi buta lantas kita enggan belajar bahasa asing. Sebailknya, jangan sampai pula akibat tekanan globalisasi dan transfer ilmu pengetahuan lantas mendorong kita untuk sok berbahasa inggris tanpa memedulikan konsep maupun konteks bahasanya.

Tidak ada komentar:

Pengikut

JAM DAN KALENDER