Blog

Salam

Kamis, 28 Juni 2012

PTN atau PTS ??

ANTARA perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS), mana yang lebih baik? Mendengar pertanyaan ini, mengingatkan saya tentang bagaimana memilih sebuah baju. Baju warna merah dan baju warna biru dengan model yang sama, mana yang lebih bagus? Ya, setiap orang akan memiliki perspektif berbeda. Ada yang melihat dari warna kesukaan, dari warna kulit yang memakai, atau lainnya. Pertimbangan itu justru sesuatu yang berasal dari luar baju tersebut. Begitu juga dengan PTN dan PTS. Namun perlu dipertegas, bahwa kita juga perlu melihat dari segi kualitas.  
Untuk mencari mana yang lebih baik, mari kita lihat secara global.
 
Bukan sekadar gengsi
 
Ketika seseorang lulus dari SMA, seharusnya mereka memiliki pemikiran yang lebih dewasa dalam memilih. Bukan sekadar gengsi untuk masuk kampus ternama, tetapi lebih didasarkan membaca kemampuan diri. Kita harus bisa memilih di mana passion kita. Ketika seseorang memiliki passion dalam suatu bidang, maka akan mudah untuk menjalani pilihan. Jadi fenomena mahasiswa yang terlalu-cinta-kampus tidak akan terlalu sering muncul.
 
Tergantung subjeknya
 
Sederhana saja, yang membuat seseorang berhasil di bangku perkuliahan itu bukan PTN atau PTS-nya, tapi orang itu sendiri. Ketika dia berkuliah di PTS atau PTN yang terbaik sekali pun, namun tidak didukung dengan semangat menuntut ilmu, maka hasilnya akan sama saja. Walaupun sedikit banyak kondisi kampus berpengaruh, namun alasan paling dasar yang menentukan kesuksesan seorang dalam menuntut ilmu adalah bagaimana orang yang menjalani.
 
Pendidikan yang dikomersialkan
 
Inilah yang sedang hot sekarang. Bagaimana pendidikan sudah mulai diperjualbelikan. Biaya pendidikan sudah semakin tinggi. Hingga muncul istilah pendidikan hanya untuk orang kaya. Ketika dulu PTS dianggap lebih mahal dari PTN, kini istilah tersebut tidak lagi 100 persen benar. Terlalu banyak fakta yang menunjukkan bahwa harga menjulang terjadi di semua sektor pendidikan tanpa memandang apakah itu negeri ataupun swasta. Inilah yang harus menjadi koreksi bersama seluruh rakyat Indonesia, agar pendidikan di Indonesia ini merata dan tidak menimbulkan gap-gap antara si kaya dan si miskin.
 
Menjadi orang berpendidikan
 
Jika boleh dibilang, inilah yang paling penting. Tidak penting di mana seseorang berkuliah, yang penting adalah ketika bagaimana dia melepas almamater kampusnya. Yaitu bagaimana seseorang benar-benar menjadi orang yang berpendidikan.
 
Jika melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dari sini bisa dilihat bahwa orang yang berpendidikan adalah orang yang mampu memiliki sikap dan tata laku dewasa setelah mereka menyelesaikan proses pendidikan. Secara gampangnya, di mana saja orang itu kuliah, maka setelah lulus seharusnya orang tersebut memiliki pemikiran yang lebih dewasa dibandingkan saat dia masuk kuliah untuk pertama kali.
 
Bagaimana kehidupan setelah kuliah
 
Berbicara teori itu mudah, tapi mengaplikasikannya yang masih menjadi tanda tanya. Inilah yang akan dirasakan setelah lulus kuliah. Di bangku perkuliahan, yang sering dipelajari adalah teori. Bahkan ketika belajar teori saja masih sering gagal, apalagi dengan praktiknya.
 
Berangkat dari pengertian pendidikan pada artian sebelumnya, setelah seseorang lulus kuliah, maka orang tersebut harus mampu mengaplikasikan kemampuan yang dia miliki. Pada saat itu, apakah dia lulusan PTN ataupun PTS tidaklah dipedulikan. Hal terpenting adalah apa yang dikuasai orang tersebut dan seberapa jauh mereka mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
 
Bermanfaat bagi apa pun dan siapa pun
 
Entah berasal dari PTS atau PTN, maka seseorang harus bisa bermanfaat bagi keluarga, orang lain, agama ataupun negara. Ini juga merupakan bukti bahwa seseorang itu benar-benar berpendidikan. Dia harus mampu membuktikan predikat yang disandangnya. Apabila seseorang bertanggung jawab dengan statusnya sebagai orang berpendidikan, maka tidak akan lagi muncul koruptor yang berani memakan uang rakyat. Tidak akan ada lagi kasus yang melibatkan orang yang mengaku berpendidikan.
 
Bermanfaat di sini bisa dalam berbagai hal. Bisa dalam bentuk pengabdian pada masyarakat, bisa dalam bentuk pemikiran dan penelitian, atau bisa juga dalam bentuk apresiasi sesuai bidang masing-masing.
 
Jadi PTN dan PTS, mana yang lebih baik ?
 
Keduanya sama baik. Keduanya akan menjadi pintu penghubung menuju masa depan seseorang. Dan kuncinya ada di tangan masing-masing orang. Masa depan ada di tangan masing-masing.
 
Untuk para mahasiswa yang sedang memasuki perkuliahan, tidak perlu merasa benci ataupun stres dan minder ketika diterima di kampus yang tidak diinginkan. Mungkin di situlah momen kehidupan akan dimulai. Dan bagi mereka yang belum mendapat kesempatan berkuliah tahun ini, tidak perlu berkecil hati, karena kehidupan nyata merupakan bangku kuliah bagi kita semua.

Kamis, 21 Juni 2012

Belajar dari India

Menjelang akhir tahun 2005 lalu, para petinggi negeri ini berkunjung ke Bangalore untuk bertemu para eksekutif dari software house di sana. Dalam pertemuan tersebut, chairman Infosys menyatakan bahwa kesuksesan mereka diraih berkat penguasaan bahasa inggris yang mumpuni. Penguasaan bahasa inggris tersebut memungkinkan mereka berkomunikasi dengan baik terhadap pasar dan komunitas internasional.

India memang merupakan negara besar dengan jumlah english speaker terbesar kedua di dunia. India juga merupakan negara penghasil software terbesar kedua setelah Amerika dengan nilai ekspor $17 milyar. Diperkirakan, pada tahun 2008 nanti penjualan mereka akan menembus angka $50 milyar. Dari data dan fakta tersebut, ada baiknya kita untuk sedikit mencoba belajar dari India.

Menilik sejarahnya, selepas merdeka dari Inggris, Parlemen India sempat berusaha memilih salah satu indigenous language untuk dikukuhkan sebagai bahasa nasional. Usaha ini sayangnya tidak pernah berhasil mencapai kesepakatan karena tiap-tiap ethnic group berusaha mempromosikan bahasanya masing-masing. Di kemudian hari, ternyata hal ini justru menjadi blessing in disguise.

Sampai saat ini, bahasa inggris memang mendominasi sebagai bahasa percakapan dan komunikasi di seantero dunia. Lebih dari 80% situs web di internet disajikan dalam bahasa inggris. Bahasa terbesar kedua, Jerman, hanya menguasai 1,5% sementara bahasa Jepang hanya menguasai 3,1%. Tercatat pula 60% hingga 85% email yang terkirim dikemas dalam bahasa inggris. Dan satu dari lima orang di muka bumi ini dapat berbahasa inggris, meskipun hanya pada level kompetensi tertentu saja.

Bicara tentang penggunaan bahasa inggris, menguasai bahasa asing bisa sejatinya bersifat “depends on” atau “a must.” Penguasaan bahasa asing bisa bersifat “depends on” ketika pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan domestik yang mencukupi. Sebaliknya, ketika peningkatan tenaga kerja melampaui lapangan pekerjaan domestik yang tersedia, maka selayaknya sistem pendidikan kita harus menyiapkan anak didiknya untuk memasuki pasar kerja global. Dalam hal ini, kemampuan berbahasa asing tidak lagi “depends on” melainkan sudah merupakan suatu keharusan (baca: “a must”).

Dari sudut pandang yang berbeda, penguasaan bahasa asing juga dapat dipetakan berdasar derajat kesarjanaan yang berbeda. Misalnya, untuk tingkat pasca-sarjana (S2 dan S3), penguasaan bahasa inggris pada level interaksi yang mumpuni merupakan suatu keharusan. Sementara untuk level S1 ke bawah, penguasaan bahasa inggris secara pasif saja boleh dikatakan cukup. Berbeda dengan lulusan S1, para mahasiswa pasca-sarjana memang dididik untuk menjadi scientist. Sebagai seorang scientist, kemungkinan untuk bergaul dengan peer mereka di luar negeri jauh lebih besar daripada lulusan S1. Mereka mungkin menghabiskan lebih dari separuh working hoursnya dengan komunitas yang memerlukan bahasa inggris sebagai alat komunikasi utama.

Di sisi lain, penguasaan bahasa asing juga terkait dengan strategi pemberdayaan resources yang ada di negeri ini. Kita akan dihadapkan pada pilihan untuk memperkuat hard knowledge atau memperkuat soft skill berupa penguasaan bahasa asing. Sebagai contoh, kita dihadapkan pada pilihan apakah dana yang ada lebih baik digunakan untuk menambah lab fisika/matematika atau meningkatkan jumlah guru bahasa inggris. Tentu saja hal ini bergantung pada pilihan arah pembangunan ekonomi kita. Jika kita lebih mengandalkan pekerjaan yang dioutsource oleh negara-negara maju, tentu penguasaan bahasa inggris adalah mutlak. Sebaliknya, jika kita memprioritaskan kemampuan lokal untuk mengeksploitasi sumberdaya alam di negeri ini, maka hard knowledge menjadi jauh lebih penting. Integrated strategy semacam inilah yang harus dipikirkan ulang oleh para policy maker kita.

Dan terakhir, bagi para public figure yang kolam airnya berada di level internasional, semestinya juga ditunjang oleh penguasaan bahasa asing yang baik dan benar. Harapannya, selain menjalin komunikasi dengan komunitas asing, juga diharapkan dapat ikut memarketingkan Indonesia kendati tidak secara langsung. Sebutlah Anwar Ibrahim atau Dorodjatun Kuntjorojakti yang mampu berbicara inggris dengan baik dan tetap mudah dimengerti.

Ada beberapa solusi untuk merealisasikan wacana tersebut. Langkah pertama adalah melakukan transfer ilmu pengetahuan secara terarah dan berlanjut –dari bahasa asing menjadi bahasa Indonesia- agar iptek terkini dunia lebih mudah diserap oleh orang-orang kita. Diharapkan, orang-orang Indonesia kelak dapat mempunyai akses informasi menuju iptek dunia dan memberikan manfaat terapan pada orang banyak meski belum menguasai bahasa inggris secara baik. Di Amerika misalnya, pekerja iptek yang aktif menambah khazanah iptek manusia hanya 1-2 persen saja dari penduduknya, tetapi hasilnya dinikmati oleh hampir seluruh penduduk Amerika.

Solusi kedua adalah menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa primer yang resmi dan mendegradasi bahasa indonesia. Berbeda dengan Malaysia yang menggunakan bahasa inggris sebagai penghubung antara etnik Melayu, Cina, dan India; Indonesia telanjur memilih bahasa melayu (bahasa indonesia) sebagai bahasa penghubung. Dengan demikian, (hampir) mustahil memunculkan bahasa penghubung kedua karena pada prakteknya kita hanya akan memakai satu bahasa. Jika langkah ini diambil, konsekuensinya bahasa indonesia hanya sekadar menjadi bahasa lokal, bahasa gaul anak muda, atau bahasa dalam lirik lagu dan karya sastra lainnya.

Akan tetapi, langkah praktis yang ideal dan lebih masuk akal justru dapat dimulai dari diri kita sendiri. Kita bisa mencoba untuk tidak melewatkan satu hari pun tanpa kegiatan yang bisa meningkatkan kemampuan bahasa inggris kita. By any means. Sebut saja seperti membaca koran/majalah asing, menulis paper, membaca textbook dan jurnal asing, mendengarkan BBC atau VOA, menonton film, mengunjungi English speaking zone, membaca komik Asterix, dan seterusnya. Harapannya, ketika salah satu dari kita kelak tiba-tiba “terpeleset” menjadi public figure (dekan, rektor, duta besar, menteri, gubernur, bupati/walikota, pengusaha, artis, dan sebagainya) kita bisa membawa diri dengan baik dan memukau dalam forum internasional.

Terakhir, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kita seharusnya tetap bisa memaklumi dan menghargai orang lain yang belum mampu berbicara bahasa inggris dengan baik, mengingat bahasa tersebut bukan native language kita. Kualitas dan kapabilitas seseorang toh tidak melulu hanya diukur berdasar kemampuan bahasa asingnya. Dan yang lebih penting adalah kesadaran dan kepercayaan diri kita dalam menyampaikan suara atau melakukan suatu komunikasi. Ketika situasi dan kondisi menuntut penguasaan bahasa indonesia yang baik, pergunakanlah bahasa ibu kita dengan sebagaimana mestinya. Begitu pula ketika forum menuntut penguasaan bahasa inggris yang baik, maka berbahasalah dengan tidak memalukan diri sendiri. Jangan sampai gara-gara nasionalisme yang membabi buta lantas kita enggan belajar bahasa asing. Sebailknya, jangan sampai pula akibat tekanan globalisasi dan transfer ilmu pengetahuan lantas mendorong kita untuk sok berbahasa inggris tanpa memedulikan konsep maupun konteks bahasanya.

Pengikut

JAM DAN KALENDER