Di sebuah istana yang sangat megah hiduplah seorang raja yang kaya raya dan baik hati. Kepemimpinannya bijaksana dan dia memerintah dengan baik, namun belum dikaruniai seorang anak. Hari-harinya dipenuhi dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat seperti mengajari rakyatnya belajar menjadi seorang pemimpin yang bijaksana dan bersikap yang baik.
Tak menyadari waktu semakin cepat berlalu. Hari berganti hari bulan berganti bulan bahkan tahun berganti tahun. Sang raja pun kini semakin tua. Suatu hari beliau merenungkan seandainya suatu saat nanti dia dipanggil sang pencipta siapa yang akan menggantikannya memerintah istana ini? Kemudian keesokan harinya beliau mengadakan sayembara untuk memilih calon penggantinya. Bagi siapa saja yang memenangkan perlombaan itu entah dari golongan orang atas maupun orang bawah akan menggantikan kedudukan dan kekuasaan beliau sebagai raja.
Rakyat pun gempar dengan sayembara itu. Mereka berbondong-bondongg melihat sayembara yang istimewa itu. Dan pertandinganpun dimulai. Dan akhirnya dari beberapa peserta yang ikut perlombaan itu hanya tiga orang pemuda lah yang mempunyai kepandaian yang menonjol. Raja bingung memilih satu diantara ketiga pemuda tersebut. Lalu beliau mendapatkan sebuah ide yang sangat bagus dan cemerlang. Beliau memberikan sebenih kacang hijau kepada ketiga pemuda itu. Dan dalam jangka waktu satu minggu ketiga pemuda tersebut harus kembali lagi ke istana dan membawa hasil sebenih kacang hijau tersebut.
Setelah satu minggu berlalu ketiga pemuda tersebut kembali ke istana untuk menghadap Sang raja. Dua orang pemuda datanglah dengan wajah ceria, bahagia dan senang membawa hasil tanamannya yang subur besar dan sangat tinggi, tetapi pemuda ketiga yang datang terakhir wajahnya cemberut dan kusam serta tidak membawa tanamannya itu, dia hanya membawa sebenih kacang hijau yang diberikan sang raja seminggu yang lalu. Pemuda dengan wajah cemberut itu berkata “baginda raja saya minta maaf karena saya tidak berhasil menanam benih kacang hijau yang baginda berikan, jujur baginda raja bahwa setiap hari saya sudah merawatnya dengan baik bahkan juga sering saya kasih pupuk supaya bisa tumbuh subur dan tinggi, tapi kenyataannya sudah satu minggu berlalu tanaman ini tak tumbuh-tumbuh juga, saya benar-benar minta maaf raja”. Sang raja pun hanya tersenyum setelah mendengarkan perkataan seorang pemuda tersebut. Seorang pemuda itu bertanya kepada sang raja “baginda, mengapa baginda malah tersenyum bukannya marah kepada saya karena saya tidak bisa menanam benih kacang hijau yang baginda berikan. Sang raja pun menjawab “WAHAI ANAK MUDA, SEBENARNYA BENIH YANG SAYA BERIKAN KEPADA KALIAN SEMUA ITU SUDAH SAYA RENDAM DAHULU DENGAN AIR HANGAT SEHINGGA BENIH TERSEBUT TIDAK AKAN PERNAH TUMBUH MENJADI TANAMAN KACANG HIJAU. Setelah mendengarkan perkatan sang raja kedua orang pemuda yang semula datang dengan wajah bahagia itu berubah 100% menjadi wajah yang kusam dan malu.
Dari cerita diatas dapat diambil sebuah pelajaran bahwa nilai sebuah kejujuran itu sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari meskipun kejujuran itu haruslah pahit. Seperti budaya kerja Tiara yang ke empat yaitu sopan dan jujur dalam bertindak dan bertutur kata, dalam hal berbicara dan bertindak, kejujuran harus diutamakan! Kejujuran itu akan mendatangkan kebaikan yang tak ternilai harganya. Dan kebaikan itu akan membawa kita untuk meraih kesuksesan. Mulailah dari sekarang untuk selalu berkata jujur dan bertindak dengan jujur pula dimanapun dan kapanpun kita berada maka kita akan terbebas dari kehancuran dan meraih kesuksesan yang luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar