Bawang putih sudah sejak lama dikenal sebagai tanaman obat (fitofarmaka). Nenek moyang bawang putih ialah tumbuhan liar Allium longicuspis,
yang sampai saat ini masih terdapat di kawasan Asia Tengah. Di Mesir
sudah dikenal sejak 2.500-3.000 tahun sebelum masehi (SM), juga dikenal
dalam peradaban bangsa Romawi, Yunani, Cina dan India kuno. Pada jaman
Yunani kuno, Hiprocates menganjurkan bawang putih untuk mengobati luka dan bronchitis.
Sebuah
pepatah Cina mengatakan, “jika usia seseorang telah mencapai 50 tahun,
dan kemudian makan bawang putih selama 50 hari, maka usia orang itu akan
bertambah lima puluh tahun lagi”. Sementara mereka yang “fanatik” pada
khasiat bawang putih mengatakan, “memakan bawang putih satu siung
sehari, membuat penyakit lari”. Penggunaan bawang putih untuk obat makin
meluas, bahkan belakangan ini sudah menjadi salah satu bahan baku
industri farmasi modern.
Khasiat
bawang putih untuk mengatasi berbagai penyakit, tidak terlepas dari
komposisi kimianya yang sangat kompleks. Dalam 100 gr bawang putih
terkandung 71,0 gr air, 95 kalori, 4,5 gr protein, 0,2 gr lemak, 23,1 gr
karbohidrat, 42 mg kalsium, 346 gr kalium, 134 mg fosfor, 1,0 mg besi,
0,22 mg vit B1, dan 15 mg vit C. melalui ekstraksi dan isolasi kimiawi,
dpat diketahui beberapa senyawa aktif yang terkandung dalam bawang
putih, seperti alliicin (ditemukan oleh Bailey dan Cavallito tahun 1944), alliin (ditemukan oleh Stoll dan Seebeck tahun 1948), ajoene, S-allycystein, dan scordinin.
Bawang
putih memiliki aroma yang khas, bagi sebagian orang merupakan bau yang
tidak sedap. Aroma tersebut makin menguat setelah siung dipotong atau
diiris. Dalam hal ini terjadi perubahan kimia, enzim allinase memecahkan alliin menjadi alliiciin. Menurut Mc Anwyll (2000), senyawa alliciin
ternyata mempunyai daya antibiotik yang kuat, namun merupakan senyawa
yang labil, dalam satu menit di udara bebas berubah menjadi dially disulfide.
Senyawa alliciin yang berbau khas, ternyata dapat meningkatkan produksi antioksidan tubuh yang ampuh, seperti peroksidase glutation dan katalase.
Dalam beberapa percobaan, dua jenis antioksidan tersebut dapat
memperpanjang umur binatang percobaan (Khomsan, 2001). Kegunaan
antioksidan antara lain memperlambat proses penuaan dini dan
meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Kandungan alliicin
dalam bawang putih sangat kecil, selain itu rentan terhadap dekomposisi
di udara bebas. Namun industri farmasi di Jerman telah berhasil
mengisolasi alliicin dan dikemas dalam bentuk tablet. Dalam beberapa formula antioksidan, selain vit C, vit B6, vit E, ascorbyl palmitae, i-cystein hydrochloride, DL methionine, bioflavonoid, panthothenic acid, dan betacarote, ekstrak bawang putih yang mengandung alliciin juga sering disertakan.
Senyawa ajoene
merupakan anti kolesterol terkuat yang terkandung dalam bawang putih.
Hasil percobaan menunjukkan, konsumsi bawang putih setengak sampai satu
siung per hari, selama tiga puluh hari, dapat menekan kolesterol sampai 9
persen.
Sebenarnya
dalam kualitas dan kuantitas yang normal, kolesterol merupakan senyawa
penting dan berguna bagi tubuh manusia, antara lain dalam pembentukan
hormone yang berkaitan dengan fugsi sel dan kerja ginjal, menunjang
penyusunan dan pembongkaran karbohidrat, dan sumber vit D.
Namun
jika dalam darah jumlahnya berlebih (misalnya orang dengan di atas 40
tahun, kadar kolesterol darah lebih dari 260 mg/deciliter, atau usia
30-39 tahun dengan kadar kolesterol darah lebih dari 240 mg/deciliter),
dapat menyebabkan penumpukan kolesterol pada dinding areteri dan
berpotensi menimbulkan gangguan terhadap jantung dan otak. Dengan
demikian, orang yang pola malannya cenderung berkolesterol tinggi,
disarankan untuk rajin mengkonsumsi bawang putih.
Senyawa
S-allyicystein yang terdapat dalam bawang putih, dikembangkan lebih
lanjut oleh peneliti dan industry farmasi di Jepang, dikenal sebagai
suplemen bawang putih Kyolic. Produk tersebut telag teruji dalam
menurunkan kolesterol, menurunkan tekanan darah, dan untuk mencegah
penggumpulan darah. Sedangkan menurut peneliti di Darwin Medical Centre, senyawa scordinin berperan dalam memberikan kekuatan dan pertumbuhan tubuh manusia, mekanisme kerjanya serupa dengan peran enzim oksido reduktase dalam memacu perkecambahan benih tanaman.
Khasiat
bawang putih lainnya ialah dengan adanya kalium yang dikandungnya (346
mg per 100 gr bahan). Kalium dalam bawang putih dapat membantu sistem
tubuh untuk menyingkirkan radikal bebas. Radikal bebas merupakan fragmen
molekuler yang terbentuk karena oksidasi bahan makanan yang berlebihan
dalam tubuh. Karena memiliki satu atau beberapa elektron yang tidak
mempunyai pasangan, radikal bebas dapat menggaet molekul dinding sel
tubuh. Hal inilah yang merangsang terjadinya tumor atau kanker (tumor
ganas).
Dengan
adanya kalium yang dilepaskan bawang putih dalam tubuh manusia, dengan
sendirinya radikal bebas akan lebih senang “merangkul” kalium. Dengan
demikian sel tubuh menjadi aman terhadap ancaman tumor atau kanker.
Tidak berlebihan jika hasil penelitian di University of Minnesota di St
Paul, menyimpulkan bahwa peluang terserang kanker turun sekitar 50
persen pada wanita usia lanjut yang rajin mengkonsumsi bawang putih.
Dengan rutin mengkonsumsi bawang putih, risiko kanker lambung, usus
besar dan prostat juga berkurang.
Meskipun
senyawa yang dikandung bawang putih belum teridentifikasi secara
lengkap, namun “daftar” khasiat bawang putih terus bertambah.
Pakar-pakar ilmu kesehatan dari Australia, Belanda, Jerman, dan Amerika
Serikat, mengungkapkan berbagai khasiat bawang putih, yaitu sebagai obat
batuk, cacingan, tekanan darah tinggi, gatal-gatal, tifus, maag,
diabetes, disentri, berbagai infeksi (susu, saluran pernafasan, kulit),
dan luka akibat gigitan binatang.
Bahkan
dapat digunakan untuk obat awet muda, menghambat penuaan, menguatkan
otot-otot badan, dan meningkatkan gairah seksual (Astaga.com, 2000).
Sementara hasil penelitian di University of Tokyo menyimpulkan, bahwa
ekstrak bawang putih dapat menekan kerusakan neuron pada sel otak,
bahkan mampum merangsang percabangan neuron. Penelitian tersebut
berusaha mengungkapkan pengaruh bawang putih terhadap daya ingat orang
berusia lanjut.
Lantas,
bagaimana cara mengkonsumsi bawang putih yang tepat dan berapa
dosisnya, supaya khasiatnya bias dirasakan secara efektif. Seorang ahli
nutrisi dari Cornell University Medical Centre, Manhattan, Barbara
Levine menjelaskan, bahwa bawang putih mentah dapat mengacaukan suasana
lambung. Sebaiknya bawang putih terlebih dahulu direbus, digoreng atau
dipanggang, karena belerang yang berkhasiat sudah lepas dari ikatan
ester dan proteinnya, pada keadaan ini lebih bermanfaat.
Hal
tersebut sejalan dengan pendapat Ali khomsan, ahli ilmu gizi masyarakat
dan sumberdaya keluarga, IPB, yang meyebutkan, bahwa potensi bawang
putih sedikit berkurang bila digoreng, tetapi kehilangannya tidak
terlalu bermakna. Dengan demikian, pandangan umum yang menyatakan bahwa
bawang putih akan kehilangan khasiatnya bila dimasak adalah salah. Dosis
konsumsi bawang putih ialah setengah sampai tiga siung per hari. Jika
lebih dari itu akan menyebabkan diare, sebab, demam, bahkan pendarahan
lambung.
Itulah
bawang putih, “obat kuat” yang menyebabkan “penyakit lari”. Namun untuk
memperoleh khasiat yang efektif, harus dikonsumsi secara bijak dan
wajar. Segala sesuatu kalau dikonsumsi berlebih akan menimbulkan efek
samping, bahkan “mengudang penyakit”